SHARE :

IDEAL_isme

Terbit : 30 July 2021 / Kategori : / / Author : admin
IDEAL_isme

H. Sultan Baktiar Najamudin, S.Sos., M.Si. (lahir 11 Mei 1979) adalah Wakil Ketua III DPD RI Periode 2019-2024 yang berasal dari daerah pemilihan Bengkulu dengan perolehan suara 191.499. Ia sebelumnya adalah wakil Gubernur Bengkulu yang menggantikan Junaidi Hamsyah.

Sebelum terjun ke dunia politik, Sultan memulai kerja profesional sebagai seorang pengusaha yang memulai usaha dari nol. Ia memulai usaha dari service AC keliling lalu berkembang membentuk perusahaan sendiri. Ia juga tercatat sebagai pengusaha di bidang penjualan senjata, bahan peledak dan tabung gas skala nasional di bawah bendera ASA karya Group.

Di usia tiga puluhan tahun ia memutuskan untuk pulang ke Bengkulu untuk mengabdikan diri untuk membangun daerah kelahirannya. Ia memulai dengan menjadi aktivis pemuda dan berhasil menjadi ketua KNPI provinsi Bengkulu dan sempat bertarung menjadi kandidat untuk memperebutkan ketua umum KNPI nasional.

Pada tahun 2009 Sultan memutuskan maju sebagai calon DPD RI dapil Bengkulu dan berhasil mewakili Bengkulu bersama Ahmad Kanedi, Riri Damayanti dan Eni Khairani. Ia pun di daulat menjadi ketua hubungan antar lembaga di DPD RI. Berjalan tiga tahun Sultan terpaksa mengundurkan diri dari DPD karena terpilh menjadi Wakil Gubernur Bengkulu sisa masa bakti 2010-2015.

Tahun 2019 Sultan maju kembali menjadi kandidat calon DPD RI mewakili Provinsi Bengkulu. Dan Ia terpilih dengan suara terbanyak dengan meraih 191.499 suara jauh meninggalkan calon terpilih lainya. Melalui mekanisme internal pemilihan pimpinan DPD RI Sultan akhirnya terpilih menjadi wakil ketua DPD RI  setelah sebelumnya terpilih secara aklamasi mewakili anggota DPD RI wilayah barat yang meliputi wilayah sumatera dan sebagian Jawa.

Kiprah Pengabdian Aktivis-Pebisnis Di Jalan Politik Nasional

Meraih posisi politik prestisius di usia yang terbilang muda merupakan mimpi dan asa yang hanya mampu dicapai oleh sedikit Pemuda beruntung. Jabatan politik bagi banyak pemuda adalah simbol kesuksesan, dan pelengkap kiprah pengabdian seorang pemuda bagi bangsanya. Meskipun jalan yang mengarah pada tujuan dan nilai politik yang luhur tak selalu indah, namun jika dibangun dengan strategi dan taktik yang tepat dan cekat maka tentu tidak ada hal yang tidak mungkin untuk dicapai. Apalagi jika pilihan jalan politik tersebut didukung oleh keberkahan-keberkahan yang tak pernah disangka (Blessing in disguise). Kiprah politik yang nyaris sempurna itulah yang dibangun oleh Pimpinan Lembaga Tinggi termuda Indonesia saat ini, Sultan Baktiar Najamudin.

Tak banyak yang tau bahwa, capaian karier politik Wakil Ketua Dewan Perwakilan Daerah (DPD RI) yang pernah tercatat sebagai Wakil Gubernur termuda Indonesia pada 2013 itu memiliki segudang prestasi dan pengalaman. Di level nasional Sultan merupakan satu dari sedikit figure muda yang pernah menduduki semua posisi politik, baik di eksekutif dan legislative. Di usianya yang masih belia, selain pernah menjadi wakil Gubernur, Sultan juga pernah sukses memimpin Kwartir Daerah Pramuka Bengkulu. Selain itu, mantan ketua HIPMI Bengkulu ini juga pernah dipercayakan menjadi Ketua HIPMI Bengkulu. Sultan juga merupakan pendiri organisasi pengembangan kepemimpinan dan demokrasi, Indonesian Democracy and Education (IDE) yang saat ini memiliki jaringan anak muda di berbagai negara.

Lahir dari keluarga sederhana yang hanya mengandalkan hasil pertanian dalam memenuhi kebutuhan hidup di Kabupaten Bengkulu Selatan Provinsi Bengkulu pada 1979 silam, Putra Bungsu dari pasangan H. Najamudin (alm) dan Ibu Hj. Nuraini (alm) ini mulai menunjukan ketertarikannya pada dunia politik sejak di tamat dari sekolah menengah atas di bengkulu.

Sultan yang kala itu adalah remaja tampan yang cerdas dan berpandangan jauh ke depan, telah mampu menunjukan kemampuan dalam memetakan kualifikasi personalnya. Di tengah keterbatasan ekonomi keluarga dan latar belakang daerah yang dikenal jauh dari kata maju, Sultan muda telah membangun tekad dan harapan yang besar bagi daerah dan negeri di mana dia lahir dan tumbuh. Kehadiran Sultan tidak hanya menjadi kembanggaan bagi keluarga Najamudin, namun juga keberkahan bagi daerahnya dan harapanya tentu menjadi kebangaan bangsa .

Hasil tak akan mengkhianati proses, demikianlah ungkapan populis yang bisa dilekatkan pada etos perjuangan politik Pria yang pernah didapuk sebagai ketua Komite Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Provinsi Bengkulu ini. Berbekal ilmu pengetahuan politik yang pernah Sultan peroleh di fakultas Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Sultan mulai menata karier politik yang dibarengi dengan karier bisnis yang cukup lama dirintisnya sejak mahasiswa. Semuanya benar-benar dimulai secara terencana dan terkur oleh Mantan Ketua HIPMI Bengkulu ini. Pada titik ini, dapat kita simpulkan betapa kemampuan manajerial, konsistensi dan tekad yang kuat, yang dibangun secara terstruktur dan sistematis adalah modal personality skill bagi bangunan karier siapapun. Menyadari pentingnya kapasitas intelektual dan kemampuan leadershipnya, Sultan bahkan bersedia untuk menempuh kelas short course program leadership di beberapa kampus ternama dunia

Reputasi akademik yang tidak banyak diketahui public ini, benar-benar dijalani oleh sultan dengan tujuan untuk mendapatkan pengetahun dan lebih daripada itu adalah membangun jaringan di level internasional.

Tumbuh di tengah Susana tradisi Melayu yang terkenal menjunjung tinggi nilai-nilai agama dan budaya, Sultan bisa disebut sebagai profil utuh dari sosok Pemuda Melayu yang santun, cerdas, kritis namun sangat lembut. Posisinya sebagai pejabat tinggi negara tak pernah membatasi kebiasaannya dalam mendiskusikan hal-hal yang substansial dan produktif dengan siapapun. Sosok yang merupakan pendengar yang sempurna ini, memiliki cara yang mengesankan dalam mengapresiasi setiap pendapat dan pandangan yang berseberangan dengannya atau yang dinilainya patut dikaji lebih jauh. Pandangan kritisnya selalu menjadi rujukan bagi pihak lain seperti pers dalam memandang suatu peristiwa penting di negeri ini. Meskipun dikenal sangat kritis pada beberapa isu sensitive yang menjadi perhatian publik, Sultan juga memiliki sensitifitas politik yang jauh lebih terukur. Baginya, dalam politik semuanya adalah sahabat yang pada saatnya akan saling menyempurnakan. Semua pelaku politik memilki nilai dan prinsip yang mereka Yakini benar dan memberikan manfaat bagi bangsa dan negara. Sehingga, selama hak-hak asasi semua warga negara dan kehormatan pribadi atau keluarga tidak dizholimi oleh siapapun, maka menjaga kehormatan sesama pelaku politik adalah kewajiban. Demikianlah Etika politik yang diyakini dan selalu dijaga oleh mantan ketua KONI Bengkulu tersebut.

Membangun Karier Bisnis

Menjadi mahasiswa dari kampus paling prestisius di tanah air, Universitas Indonesia, tidak lantas menjadikan Sultan lupa daratan. Kesadarannya terhadap kondisi ekonomi keluarga yang serba kekurangan memaksa Sultan harus berputar otak agar bisa menyelesaikan studinya secara baik dan tepat waktu. Dan Berada di lingkungan kampus yang penuh dengan hingar binger gemerlapan ibukota, tidak lantas menjadikan nyali dan kepercayaan diri anak kampung ini ciut. Prestasi akademik yang selalu diraihnya sejak sekolah dasar (SD) hingga pada level sekolah menengah atas (SMA) di kampung halamannya merupakan modal social penunjang kecakapan sultan dalam bergaul dan bersosialisasi dengan mahasiswa ibukota yang notabene merupakan anak para pejabat dan pengusaha kaya. Berada di lingkungan yang demikian menantang, justru dijadikan sebagai peluang berharga oleh Sultan yang kemudian hari dipercayakan sebagai HIPMI Provinsi Bengkulu ini.

Dari kampus yang terkenal dengan the Yellow Jacket inilah Sultan bertransformasi menjadi bisnisman muda yang handal dan sangat diperhitungkan oleh rekan-rekan mahasiswanya. Berkat do’a restu kedua orang tua dan dukungan saudara-saudaranya, kepiawaian Sultan dalam berbisnis mampu mencapai level yang memungkinkan dirinya berdiri sejajar dengan pelaku bisnis besar lainnya. Berawal dari usaha servis AC keliling Sultan kemudian semakin percaya diri mendirikan perusahaan yang bergerak di bidang security,persenjataandan bahan peledak komersial bahkan 15 tahun group bisnisnya merambah ke sektor perkebunan, pertambangan, property dan lain-lain.

Ketekunan dan kerja keras yang dibangun di atas fondasi sosio-preneurship, bisnis Sultan terus berkembang pesat dengan melibatkan banyak tenaga kerja. Pertumbuhan bi snis yang demikian maju, tentu tidak terlepas dari jaringan bisnis yang dia rawat sejak di bangku Kuliah. Baik di dalam maupun di luar negeri.

Di luar negeri, Sultan diketahui sangat aktif terlibat dalam beberapa organisasi internasional. Baik bersifat profit maupun non-profit atau sebagai volunteer dari banyak program-program Lembaga internasional di Indonesia. Pria yang biasa disapa dengan Bungsu (Bung Sultan) ini bahkan pernah ditunjuk sebagai ketua Forum Jepang-Indonesia Bengkulu yang anggotanya merupakan perusahaan-perusahaan ternama jepang Menjadi bagian dari rantai pasok industry global tentu bukan hal yang sederhana bagi seorang putra daerah. Semuanya dibangun atas dasar reputasi, integritas dan jaringan bisnis yang luas.

Meski telah menjadi pelaku bisnis yang sukses di usia yang terbilang muda, Sultan memiliki sensitifitas social dan perhatian yang tinggi terhadap isu-isu lingkungan hidup. Sebagai eksekutif muda yang lahir lingkungan desa, Sultan memahami dan menyadari betul bahwa, keberadaan lingkungan yang berkualitas dan terlestari merupakan unsur kehidupan paling menentukan bagi manusia di segala tempat dan waktu. Sultan mendirikan sebuah Yayasan social dan Pendidikan yang hingga saat ini masih aktif membantu masyarakat kecil, dengan berbagai kegiatan social seperti program “Sultan Berbagi”. Maka tak heran jika Sultan selalu terlibat secara aktif dalam beberapa konferensi tingkat tinggi perubahan iklim. Pada tahun 2019, Saat pertama kali ditetapkan sebagai salah satu Pimpinan DPD RI, Sultan secara khsusus diberikan kesempatan sebagai Speaker, United Nations Climate Change di Spanyol. Dan pada tahun ini (2021), saat KTT COP26 di Kota Glasgow Skotlandia, Sultan pun Kembali mengkampanyekan gagasannya berliannya di hadapan banyak delegasi negara sahabat terkait pengelolaan Kawasan hutan yang produktif bagi kelompok petani kecil dan komunitas local yang berperan penting dalam melindungi ekosistem hutan.

Sebagai anak bungsu, Sultan adalah putra kesayangan keluarga yang sangat dekat dengan Sang Ibunda. Sultan kecil menjadi anak yang ramah dan lembut. Dia tumbuh dengan kondisi orang tua yang tidak lagi sesehat dan sekuat dulu. Dengan Kondisi keluarga yang demikian, menjadikan Sultan sangat sensitive terhadap banyak hal, terutama isu kemiskinan dan kesejahteraan social. Sosok Ibu bagi Sultan adalah sumber inspirasi dan kebahagiaan. Di usia produktifnya, Sultan bahkan rela menunda kebutuhan menikahnya, demi merawat sang Ibu yang sudah sakit-sakitan. Meskipun dengan segala capaiannya yang memungkinkan dia untuk mendapatkan banyak pilihan tentang wanita, tapi bagi Sultan, kasih sayang dan perhatian kepada Ibunda adalah segalanya. Bisa dikatakan bahwa, segala kemudahan dan capaian yang sudah diraihnya merupakan wujud keberkahan yang dia peroleh dari Pembaktiannya kepada Ibunda selama hidupnya.

Nilai dan Gagasan Politik

Terjun di dunia politik yang penuh dengan intrik dan drama bagi Sultan merupakan pilihan moral yang harus dijalani secara wajar dengan niat yang lurus. Perjuangan politik di alam demokrasi mesti dimaknai dengan kesadaran bahwa politik yang hendak kita perjuangkan bukan semata politik kekuasaan, melainkan suatu politik yang mengedepankan panggilan pengabdian demi kesejahteraan masyarakat luas, dialektika antara partai dan politikus serta masyarakat yang kritis. Dengan demikian, budaya politik santun, bersih dan beretika ini diperlukan karena dapat membuat para elite politik menjauhi sikap dan perbuatan yang dapat merugikan kepentingan yang jauh lebih besar, yakni bangsa Indonesia. Nilai-nilai dasar politik yang diyakini Sultan ini tidak hanya menjadi nafas perjuangan, namun lebih merupakan alasan dan rasionalitas yang mendasar saat pertama kali menapaki jalan politik.

Memutuskan untuk bertarung menjadi kandidat Ketua Umum KNPI di tahun 2005 bersama tokoh nasional KNPI lain Aziz Syamsudin dan Ahmad Doli Kurnia yang saat ini juga menempati posisi strategis di parlemen senayan menjadi Langkah strategis Sultan menancapkan kariernya dalam konstalasi politik nasional. Bagaimanapun KNPI merupakan Induk organisasi kepemudaan terbesar nasional yang sangat berpengaruh saat itu. Setiap ketua KNPI adalah tokoh pemuda nasional yang prestisius dan seringkali menduduki posisi-posisi strategis di republic ini. Meskipun gagal terpilih menjadi ketua umum, namun uniknya oleh semua kubu ketua umum yang pecah pasca kongres KNPI menempatkan Sultan sebagai ketua bidang di struktur kepengurasannya masing-masing. Dalam peristiwa ini, kita dapat melihat bahwa, Pria berdarah campuran Bengkulu-Padang-Palembang ini sejak awal memilki kemampuan menempatkan diri dan merangkai hubungan personal yang simbang dengan semua pihak dalam situasi konflik.

Menjadi creator pemenangan salah satu Calon Gubernur di Bengkulu di medio 2004 adalah awal dari Karier politik Mantan Wakil Gubernur termudah Indonesia ini. Bahkan Ketika Masih berstatus sebagai mahasiswa, Sultan muda yang baru menginjak usia 24 tahun telah mampu membangun sebuah tim pemenangan politik lokal yang militant dan solid. Dengan modal kecakapan berorgansiasi sekaligus bernegosiasi dan dukungan jaringan pergaulan yang cukup luas, Sultan dan timnya mampu memenangkan kandidat Gubernur provinsi Bengkulu yang dicalonkannya. Di saat yang sama, bagi banyak pihak, baik rekan maupun lawan politik, Pesona anak muda kelahiran desa Unggut Bengkulu Selatan ini mulai dipandang sebagai figure pemimpin muda potensial di masa depan. Konstelasi politik Bengkulu yang cukup tajam, mampu dikonversi menjadi sebuah medium politik yang justru menempatkannya dalam posisi strategis seperti saat ini. Sultan bisa disebut sebagai generasi pertama Millenial yang turut memainkan peran penting di panggung politik nasional.

Sukses menjadi ketua tim pemenangan calon Gubernur di daerah, Sultan kemudian mencoba peruntungan politiknya sebagai calon anggota Dewan Perwakilan Daerah RI (Senat) di tahun 2009. Dan hasilnya, Pasca Pemilu 2009, Sultan sukses memecahkan rekor sebagai senator termuda Indonesia dengan perolehan suara terbanyak, Di tahun yang sama, dengan manuver politiknya yang lembut, Sultan bahkan nyaris terpilih sebagai Ketua DPD RI. sebuah pertarungan politik nasional yang belum pernah di lakukan anak muda berusia 26an tahun tapi sultan berani berani menerobos hal yang tidak biasa di lakukan anak

muda lain, Sebagai gantinya, Sultan yang sarat pengalaman dan relasi dagang di banyak negara dipercayakan menjadi Pimpinan Hubungan antar Lembaga Parlemen dan Internaisonal DPD RI. Meski demikian, dengan Capaian politik yang demikian mulus, tidak menjadikan eks aktivis HIMAPOL Universitas Indonesia ini menjadi jumawa. Ketertarikannya dalam mempelajari, memahami dan terlibat aktif isu-isu social, politik dan lingkungan baik tingkat local, nasional maupun global menjadi konsen dan perhatian seriusnya. Karakter pemikir dan pejuang yang menjadi ciri khas pemuda Minangkabau – Bengkulu menjadi personifikasi yang kuat dalam diri Sultan sebagai tokoh muda nasional.

Dengan Kemampuan negosisasi dan modal pergaulan yang dimiliki, Sultan dalam sebuah kesempatan yang langka mampu menghadirkan Miss Universe ke daerahnya pada tahun 2007 Karena permintaan Sultan, Riyo Mori, Miss Universe 2007 rela menyisihkan waktunya yang padat demi berkunjung dan menanam pohon dan Bakau di negeri Rafflesia Bengkulu. Kehadiran Aktris asal Jepang itu tentu menjadi sejarah bagi masyarakat Bengkulu. Padahal saat itu, Sultan masih merupakan seorang aktivis KNPI yang kebetulan memiliki kepedulian yang sama dengan Aktris cantik tersebut di bidang lingkungan hidup. Sultan merupakan sosok pemuda disiplin dan menyukai lingkungan yang asri dan bersih. Kepeduliannnya terhadap isu lingkungan hidup dan perubahan iklim merupakan bagian dari kebiasaan-kebiasaan kecil yang sudah pecinta tumbuh-tumbuhan lakukan sejak kecil.

Dalam kiprahnya, sikap politik Sultan yang kritis dan santun terhadap kebijakan eksekutif, berdampak signifikan terhadap kesan di hati para kolega. Sehingga Kenyamanan politik yang dihasilkan mampu menciptakan relasi dan ruang dialog yang saling menguntungkan. Baginya, di jalan pengabdian, perbedaan selera dan sikap politik merupakan sebuah keniscayaan bagi kemanusiaan yang hidup dalam kemajemukan. Sebagai pemimpin muda, Sultan tak sungkan dan selalu menyempatkan diri untuk melakukan silaturahmi dengan para tokoh senior Bangsa, baik yang masih aktif berpolitik maupun yang sudah pensiun. Ketiadaan sentiment partai politik memberikan ruang yang lebih luas dan bebas untuknya dalam membangun relasi dengan tokoh manapun.

Pernah gagal dalam konstestasi pemilihan Gubernur pada 2015. Namun kekalahan yang dramatis itu tak lantas menghentikan langkah politiknya ke level yang lebih baik. Jatuh di konstestasi politik local, nama Sultan justru melompat jauh dan menempati posisi sebagai pejabat tinggi negara dengan kode RI 69 pasca pemilu 2019. Kapasitas gagasan dan keunggulan personality Pria yang pernah menjadi ketua PARFI (Persatuan artis Film indonesia) ini sepertinya lebih pas untuk diperankan pada panggung politik level nasional. Anggapan dan harapan itu terbukti benar, setelah public melihat kiprah dan peran politik Sultan yang cukup signifikan dalam posisinya sebagai pimpinan Lembaga DPD RI. Sikap politiknya yang anti mainstream dan out of the box, menjadikan sosok eks penjual martabak ini menjadi kurang populis di mata public, namun menjadi perhatian serius kaum intelektual dan elit politik nasional.

Padangannya kritisnya terkait praktek demokrasi Indonesia yang semakin liberal dan lingkungan hidup yang kian terdegradasi, adalah dua isu central yang menjadi perhatian Khususnya. Akibatnya, Sultan praktis mejadi satu-satunya senator dan anggota legislative yang bersuara nyaring terhadap kedua isu yang strategis ini. Karena dianggap bukan merupakan isu yang populis, praktek demokrasi liberal melalui Pemilu langsung yang melibatkan oligarki. Demikian juga keresahannya terhadap masa depan lingkungan di era perubahan iklim akibat deforestasi dan industrialisasi. Sultan melahirkan sebuah gagasan besar yang disebut dengan “Demokrasi Hijau”. Dalam banyak kesempatan, Sultan selalu mendorong agar pemerintah dan DPR RI/DPD RI segera menformulasikan sebuah RUU omnibus law Perubahan Iklim.

Kemampuan diplomasi yang sudah dibangunnya sejak menjadi praktisi bisnis di sektor export import menjadi skill yang sangat membantu kerja-kerja politik beliau selama menjabat sebagai wakil ketua DPD RI. Terutama yang berkaitan dengan hubungan diplomatic lintas parlemen. Sejak 2010 Sultan tercatat sudah menjadi pembicara di forum Pemimpin Muda Dunia (World Youth Forum) di Berlin, Jerman. Setahun setelahnya (2011), Sultan Kembali dipercayakan oleh Lembaga DPD RI sebagai pembicara di forum United Nation Parliament Meeting di Geneva, Swiss. Di medio 2012, Sultan bahkan mewakili Lembaga Parlemen Indonesia sebagai pembicara di forum Parliamentary assembly di PBB New York, Amerika dan juga berkesempatan menyampaikan Kuliah Umum terkait Publik dan Justice Law di Leiden University, Belanda. Dan tentu masih banyak lagi keterlibatan Sultan dalam banyak forum Internasional di tahun-tahun setelahnya. Dan terakhir, dalam lawatannya ke Inggris dan Skotlandia, Sultan kembali Kembali ditunjuk menjadi pembicara kunci di forum KTT perubahan Iklim atau COP26 Glasgow.

Empat hari di Inggris, Sultan Bersama rombongan DPD RI benar-benar memanfaatkan setiap harinya untuk melakukan kunjungan dan menjalin hubungan diplomatic ke beberapa tempat berbeda. Hari pertama, setelah mendarat di Inggris, Sultan langsung diundang makan siang oleh Jenderal Peter Pearson, orang kepercayaan ratu Elizabeth di Windsor. Hari berikutnya setelah berbicara di forum COP26 terkait dukungan terhadap petani kecil dan komunitas local dalam upaya pemanfaatan hutan, Sultan dan rombongan langsung memenuhi undnagan Gubernur dan Walikota Southampton Bersama para pelaku usaha di sana. Dan terakhir, sebelum Kembali ke tanah air, rombongan senator Indonesia dan Sultan memenuhi Undangan otoritas salah satu kampus terbaik Inggris, Loughborough University. Di sana Sultan berbicara dan berdiskusi Panjang dengan para dosen terkait kehidupan demokrasi Indonesia dan relasi antara Islam dan Negara.

Sebagai pimpinan Lembaga Tinggi negara yang saat ini dinilai belum maksimal peran dan fungsi terhadap rakyat, Sultan selalu berupaya agar DPD RI diberikan kesempatan yang lebih dalam memperbaiki tradisi demokrasi Indonesia. Oleh karena itu, di banyak kesempatan, Sultan selalu mendorong agar bangsa ini bersepakat untuk membuka ruang bagi terlaksananya pembaharuan konstitusi RI (UUD 1945). Konstitusi Indonesia menurutnya, merupakan hasil kesepakatan Bersama yang dibangun sesuai dengan suasana kebatinan bangsa Indonesia di masanya. Sehingga, pembagian kewenangan dan sistem ketatanegaraan kepada Lembaga-lembaga demokrasi dalam konstitusi sudah saatnya diperbaharui atau ditinjau Kembali. Sultan bahkan berani menyuarakan agar system pemilu langsung yang diterapkan selama ini, dikoreksi. Pancasila, dalam sila ke-empat, mengamanahkan agar setiap system kepemimpinan nasional didaulat melalui Lembaga perwakilan secara hikmat dan bijaksana. Sebuah gagasan yang banyak menuai kontraversi, karena dianggap sebagai langkah mundur demokrasi oleh banyak pihak. Meskipun kurang populis, gagasan besar Sultan ini merupakan dobrakan penting untuk demokrasi Indonesia yang saat ini terjebak dalam lingkaran setan pemilu langsung. Di mana oligarki menjadi dalang dari setiap proses pemilihan pemimpin dan tentu saja akan berpengaruh pada kebijakan public.

Berita Lainnya